Sajak Fahmi Muhammad Fadhel; Sepertiga Malam

http://otnairahiwa.blogspot.com

Aku bercerita saat (mestinya) hujan tiba
Kala para munafiq senja dan pengingkar kopi bertebaran bagai ngengat di awal purnama

Semakin membuat mual ketika datang sebuah hikayat tentang romantis akan laris

Insan patah hati akan dicari

Ditinggal menikah tiadalah susah malah membawa berkah dengan datangnya pundi rupiah

Ditikung alih-alih membuat buntung, malah untung

Dan mendua bukanlah aib, apalagi dosa

Jamak kini terjadi

Bahwa hati yang tersakiti masuk tivi
Tangis yang semestinya sembab, malah membuat si empunya tangis jadi model jilbab

Isak yang tertahan jadi gurauan
Yang tentu saja, ditukar uang
Atau sekedar royalti serial yang berkelanjutan

Saat segala tentang cinta, asmara, dan lika-liku tentangnya bertebaran di pelupuk mata

Kenapa tak coba menepi di pojok samudera?

Berharap gemuruhnya akan membawa luruh

"bawa aku mati saja" ujarku padanya

Aku tak berkeinginan menggugat senja yang terlanjur dimiliki

Aku tak protes jika kopi ternyata bukanlah cara yang bijak untuk mengingat senyum manismu kembali

Apalagi mendendam berlebihan kala hujan tak lagi menenangkan

Harapku ialah merindumu dengan cara yang asing

 Dengan bisik lirih dan isak yang tertahan

Tak perlu berteriak ke penjuru benua, namun cukuplah Sang Maha yang menilainya

Egois? Mungkin.

Tak tahu diri? Pasti.

Nekat? Iya.

Gila? Terserah apapun ucapmu.

Aku hanya makhluq yang terpagut rindu

Ikhtiarku semoga tak membuatmu risau

Namun ketahuilah, namamu selalu bercampur dalam lafadz

Yang kuderas di setiap sepertiga malam aku terjaga
" Belum dapat kukenali mana kopiku dan mana senyummu yang tawar tanpa gula bagai obat pengantar luka "