Rumah Pada Sebuah Kepala

http://otnairahiwa.blogspot.com

Setiap kepala mempunyai rancangan masing-masing. Ada yang berencana bahagia dengan kesederhanaanya. Ada pula yang bergelut nestapa pada kemakmurannya. Dan kita dituntut untuk pandai memilih. Memilah-milah mana yang akan kita susun dari keping-kepingan pengharapan. Lantas ditata satu persatu, disusun perlahan setingkat demi setingkat hingga rapi menjadi sebuah rumah. Rumah yang akan kita tempati, bukan sekedar singgah lalu pergi.

Sebentuk pondasi adalah dasar sebuah rancangan tegak berdiri. Ada angan, cita, rasa, dan sedikit cinta sebagai modal penguat kaki. Kemudaian dicampur menjadi semacam ramuan bahan penguat bangunan yang begitu menawan. Jangan biarkan mereka semua tercampur ala kadarnya. Buat dia sekuat-kuatnya sehebat-hebatnya, jika larimu tak mau terseok-seok setelahnya.

Kita harus pandai memilih. Semakin tinggi rumah, semakin besar pula badai yang menerpa. Dan Kita dipaksa untuk selalu terjaga dan kuat menangkis semuanya. Kita pasang benteng di depan lalu kerahkan seluruh pasukan siaga disana. Atau kita lepas butiran penangkal badai di udara biar mereka tiada bisa menerpa. Kalah berarti hancur lebur. Jika itu terjadi, Yang tersisa hanya puing-puing rumah yang tak kan usai. Hanya ada satu hal yang menjaga puing tersebut selamat dari reruntuhan. Yaitu keteguhan hatimu, hati kita.

Pada setiap kepala harus tercipta sebuah rumah biarpun tak semegah astina. Didalamnya menjadi tempat bersemayamnya rak-rak kayu  berisi tumpukan lembaran mimpi. Mimpi yang membawa kita sampai di titik ini. Dan mimpi-mimpi manis dikemudian hari.

Semoga ia selalu nyaman berlindung disana. Didalam sebuah rumah pada sebuah kepala.
" Belum dapat kukenali mana kopiku dan mana senyummu yang tawar tanpa gula bagai obat pengantar luka "