iklan

Rumah Pada Sebuah Kepala

http://otnairahiwa.blogspot.com

Setiap kepala mempunyai rancangan masing-masing. Ada yang berencana bahagia dengan kesederhanaanya. Ada pula yang bergelut nestapa pada kemakmurannya. Dan kita dituntut untuk pandai memilih. Memilah-milah mana yang akan kita susun dari keping-kepingan pengharapan. Lantas ditata satu persatu, disusun perlahan setingkat demi setingkat hingga rapi menjadi sebuah rumah. Rumah yang akan kita tempati, bukan sekedar singgah lalu pergi.

Sebentuk pondasi adalah dasar sebuah rancangan tegak berdiri. Ada angan, cita, rasa, dan sedikit cinta sebagai modal penguat kaki. Kemudaian dicampur menjadi semacam ramuan bahan penguat bangunan yang begitu menawan. Jangan biarkan mereka semua tercampur ala kadarnya. Buat dia sekuat-kuatnya sehebat-hebatnya, jika larimu tak mau terseok-seok setelahnya.

Kita harus pandai memilih. Semakin tinggi rumah, semakin besar pula badai yang menerpa. Dan Kita dipaksa untuk selalu terjaga dan kuat menangkis semuanya. Kita pasang benteng di depan lalu kerahkan seluruh pasukan siaga disana. Atau kita lepas butiran penangkal badai di udara biar mereka tiada bisa menerpa. Kalah berarti hancur lebur. Jika itu terjadi, Yang tersisa hanya puing-puing rumah yang tak kan usai. Hanya ada satu hal yang menjaga puing tersebut selamat dari reruntuhan. Yaitu keteguhan hatimu, hati kita.

Pada setiap kepala harus tercipta sebuah rumah biarpun tak semegah astina. Didalamnya menjadi tempat bersemayamnya rak-rak kayu  berisi tumpukan lembaran mimpi. Mimpi yang membawa kita sampai di titik ini. Dan mimpi-mimpi manis dikemudian hari.

Semoga ia selalu nyaman berlindung disana. Didalam sebuah rumah pada sebuah kepala.

Kebenaran Harus ditegakkan atau Bengkokkan Saja Sekalian

http://otnairahiwa.blogspot.com
google image
Aku hingga kini tak lagi menemukan sesosok kamu. Kamu yang selalu dihati, berparas putri berkendara kuda putih berseri. Bersepatu kaca datang hampir tengah malam dan hilang tepat setelah perut terasa kenyang. Kamu fikir dia tak menunggu kamu? Bodoh kamu! Aku selalu menunggu kamu. Dan sekarang kamu masih mempertanyakan apa aku masih menunggu kamu? Hahaha lelucon macam apa lagi yang sedang kamu mainkan? akhiri saja. Sebelum berakhir luka. Luka buatmu, luka buat ku, juga luka buatnya.

Aku termenung. Dihadapanya segelas kopi dan sepiring ubi. Dan beberapa batang rokok beserta uthisnya. Aku sedang dikejar waktu. Sejak ia memutuskan untuk menuliskanya, tak satu paragrafpun telah tercipta. Lembar kerja masih bersih. Hanya ada beberapa kata. KEBENARAN HARUS DITEGAKKAN KALAU TIDAK BISA DIBENGKOKKAN SAJA SEKALIAN di atas tengah lembar kerja. Mungkin kalimat itu yang akan dijadikanya judul tulisanya. Padahal harus segera terdistribusi atau kalau tidak kembali gigit jari, tak ada uang masuk kantong lagi. Maklum saja sudah sebulan aku tak dapat berita. Bukan karena tak ada yang menarik untuk diberitakan, tapi karena fokusnya mulai terpecah. Menjadi kepingan antara kamu, dia, dan berita.

Nampaknya ada gusar disana Saat sebuah kebenaran harus menindih dan menghapus kebenaran yang lain. Dan kebenaran yang mesti ditulis sangat berbeda dengan yang selalu ia yakini. Semua jadi tumpang tindih. Bukankah sebenarnya sebuah kebenaran punya perspektifnya sendiri? Dan bukankah kebenaran juga punya pembenaranya masing-masing?

Bagi seorang penulis presepsi atas kebenaran sangat dipengaruhi oleh suasana hati insannya. Suka duka maupun nestapa, seorang penulis dituntut tetap setia dijalurnya. Kondisi tersebut dianggap sebagai ujian berat bagi seorang penulis. Disatu sisi raganya harus menulis kasus pembunuhan akibat perselingkuhan, misalnya. Padahal Disisi lain hatinya sedang gundah gulana karena harus merelakan kamu bersamanya. Dan yang terbunuh dalam kasus adalah pacar kekasihnya. Alhasil? Bisa kita diterka-terka sendiri akan berakhir menjadi apa.

Kebenaran memang harus ditegakkan

Kebenaran bagi seseorang belum tentu kebenaran bagi orang yang lainnya. Begitu pula kebenaran pada sebuah kaum belum tentu sebuah kebenaran pula bagi kaum yang lain. Kebenaran mempunyai prespektifnya sendiri. Tergantung dari prespektif mana sebuah kebenaran itu dilihat sebagai sebuah kebenaran. Dan bagi penganut kebenaran itu sendiri, sebuah kebenaran itu pasti akan dibela sampai kebenaran itu menunjukkan kebenaranya sendiri. Oleh karenanya kebenaran harus ditegakkan. Sehingga kebenaran yang sebenarnya dapat menampakkan wajahnya. Untuk menunjukkan jalan bagi penganut kebenaran yang berpura-pura berada pada kebenarannya. Sebagai penuntun langkah guna mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya.

saat ini, kita sangat sulit membedakan mana kebenaran yang benar dan kebenaran yang hanya dibenar-benarkan. Sebab kita hidup dijaman semua berebut benar. Dan tidak ada satupun dari kita yang bersedia bercermin sejenak, merenung, menanyakan pada hati kecil nurani kita apakah kebenaran yang kita yakini sebagai kebenaran adalah kebenaran yang sebenarnya. Atau kebenaran yang kita yakuni justru menyesatkan kita.

Semoga kebenaran yang kita yakini adalah kebenaran yang sesungguhnya. Dan semoga kebenaran yang beredar luas di TV bukanlah kebenaran semu yang mengarah pada perbuatan saling menjatuhkan dan saling menistakan.

Kepada kalian pemeluk kebenaran, iklaskan, Biarkan kebenaran sejati menuntun jati dirinya menemui kesejatianya. Jika itu masih kau anggap salah, bengkokkan lagi saja!

Dan Hari Ini

Dikatakan pada sebuah kitab bahwasanya kita tercipta di bumi mempunyai tugas dan tujuan masing-masing. Dan dikatakan pula bahwasanya semua yang tercipta memiliki sebuah fungsi. Butiran debu bahkan jajaran gunung mempunyai peran masing-masing dalam penciptaannya. Hal tersebut itu pula yang membedakan kita satu sama lain, meski di mata-Nya kita setara. Dan kita tidak boleh iri akan porsi yang telah di tugaskan oleh Nya. Yang perlu kita lakukan adalah terus bersyukur, bersyukur, dan terus bersyukur.

Hari ini saya terpukul oleh sebuah kalimat seorang kawan saat berbincang sederhana ditengah corat-coret kuasan tinta. Ia katakan Bahwa kita hidup harus mempunyai sebuah tujuan. Yang mana tujuan tersebut merupakan lintasan lurus ke depan menuju subuah tempat yang menjadi titik akhir dari sebuah perjalanan.


Diibaratkan kita adalah sebuah mobil yang melintas di sebuah kota. Dan tujuan adalah lokasi yang hendak kita tuju. Kita harus menentukan dimana lokasi yang akan kita tuju. Jalan menuju ke lokasipun akan terlihat. Selanjutnya Kita memilih jalan tersebut dan melaluinya. Itulah sebabnya kita perlu sebuah tujuan, agar kita dapat menentukan arah terdekat untuk menyelesaiakan sebuah perjalanan.

Lantas bagaimana dengan tujuan saya selama ini?

Jawaban akan pertanyaan tersebut yang memutat-mutar dikepala hingga saat ini. Ternyata selama ini Nihil! Belum ada jawaban. Perjalananku selama ini belum berada di dalam lintasannya. Masih terombang-ambing, kadang mendekati lintasan, kadang sedikit keluar lintasan, bahkan sering pula jauh. Mungkin itu yang membuat perjalanan selama ini selalu terhenti dan sering diambang kebimbangan. Dan hari ini tersadar bahwa saya berada jauh dari lintasan yang seharusnya. Dan itu artinya saya harus segera berbenah.

Tidak hanya itu, hari ini pun tersadar bahwa kita harus tahu dari mana kita berasal. Berasal Bukan melulu tempat asal melainkan lebih ke arah dari siapa kita dilahirkan. Dari keluarga siapa kita berada. Bukan berarti rasis atau semacamnya. Namun hal itu lebih menjadikan kita tahu diri bahwa setiap dari kita tidaklah sama. Bukankah kita tercipta memang dalam kondisi berbeda satu sama lain? Dan kita harus berjalan sesuai dengan kondisi kita bermula. Berangan besar sah-sah saja, namun kita harus tahu dimana kita bermula dalam lintasan yang akan membawa kita menuju garis akhir perjalanan

Dan hari ini, saya baru menyadari semuanya...


Pelukis langit lari terburu-buru
Hingga dia lupa warana kuning dan biru
Pelukis langit lari terburu buru
Hingga yang ada hanya kelabu
-Banda Neira (pelukis langit)

Setangkai Bunga Kenangan

http://otnairahiwa.blogspotcom


Pertemuan kita harusnya menjadi sebuah penyatuan, Dua hati dua jiwa  dua kepala yang sebelumnya awam hingga saling mengenal, saling sapa, hingga akhirnya sering bersama. Bukan saling melupakan satu sama lain. mengenang atau dikenang adalah dua pilihan sulit cukup untuk membuat perut melilit. Seorang yang Mengenang biasanya berarti ditinggalkan, dan dikenang berarti meninggalkan.

Dengan mengenang kita tersadar bahwa kita pernah ditinggalkan oleh sebuah tokoh lakon dimasa silam. Mengenang bukan berarti masih ada peran yang dilakonkan, melainkan sebuah bentuk penghargaan akan kisah silam yang begitu menawan maupun kisah usang yang begitu memilukan. Tanpa itu saat ini mungkin tak akan terjadi seperti ini. Tokoh itu tak akan benar-benar pergi selama hati dan otak masih berfungsi. Jangan salahkan jika dia datang menampakkan diri. Sambut saja dengan suka cita, meski luka lama kembali menganga. Dan Yakinlah, mengenang bukan berarti sebuah dosa, meski ada sedikit banyak rasa.

Hanya untuk sekali mengenang diperlukan proses yang cukup lama. Berawal dari keadaan saat ini dimana ada sebuah gerakan ataupun benda di sekitar yang memaksa membuka pintu ingatan masa lalu. Mirip seperti de javu. Analoginya, seperti halnya sebuah pertemuan akan dimulai dari mata turun ke hati lalu menuju ke otak dan menjadi angan. Begitu pula sebuah kenangan akan muncul.

Mata akan melihat sesuatu yang pernah dilihatnya di masa lalu dan Dikumpulkan di sebuah tempat rahasia yang entah apa namanya. Turun ke bawah melalui syaraf menuju ke hati. Dihati inilah perasaan perasaan silam baik duka maupun suka akan terasa yang kemudian memaksa kita untuk mengingat kisah haru masa lalu.

Kita harusnya berterima kasih kepada masa lalu. Karena manisnya kita sangat menghargainya dengan memberinya setangkai bunga kenangan. Jika pahitpun membuat kita sadar untuk lebih baik dan tidak mengulanginya. Seseorang yang kita cintai bisa berubah menjadi seseorang yang kita benci. Dan seseorang yang kita benci bisa berarti menyemangati. Bersemangat untuk lebih baik hingga akhirnya membawa kita sampai di titik ini.

Jadi beruntunglah kalian sebagai seseorang yang sedang mengenang. Karena masa lalumu membawamu sebaik saat ini. Berbanggalah kalian, Dengan mengenang kau punya kisah hebat yang akan terus mendampingimu dengan hangat. Setidaknya dia akan selalu mengingatkanmu untuk selalu berbenah dan selalu menuntunmu hingga kau menjadi hebat.

Jangan salahkan seorang yang sedang mengenang, Mungkin dia sedang berkaca pada masa lalunya demi menyambut masa depannya.

Hidung Mungil

http://otnairahiwa.blogspot.com


Tubuh ini butuh sebuah dorongan, Meski pada akhirnya jatuh ke dasar jurang. Sebagai pengingat diri, saatnya kaki kembali berdiri, bangkit dari bayangan diri sendiri. Harusnya tubuh ini tak lagi disini, selalu saja berkuitik dengan janji, yang entah kapan akan tertepati.

Hujan begitu lebat. Mengingatkanku pada kisah tak tersurat. 9 tahun, waktu yang tak bisa di sebut sebentar untuk sebuah bunga yang tak kunjung mekar. Kala itu kau masih begitu lugu dengan putih birumu. Juga dengan sepeda biru kesayanganmu. Dan aku? Sama sepertimu, lugu juga unyu.

Kalau ditanya siapa pemujamu yang pertama, mungkin akulah orangnya. Sejak awal kita berjumpa ada sesuatu yang tidak biasa. Membuat diriku sering tenggelam dalam rasa. Kadang semua suara terhenti sekejap membisu dalam riuh, hanya gerakmu. Berirama gerak melambat tak bersuara. Hening, begitu para biksu sering bergeming.

Masih kuingat jelas parasmu saat itu. Masih dekil dengan rambut sepanjang bahu milikmu. Juga dengan bibir dan hidung mungilmu. Aku adalah lelaki berengsek jika kau ku sebut gadis berhidung pesek. "Mungil" mungkin itu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan hidung tanpa membuatmu tersinggung. Dan senyummu yang setiap hari selalu kunanti layaknya sarapan pagi. Hariku belum disebut hari jika senyumanmu belum terjadi. Didinding sering terpapang "utamakan sarapan", bagiku terbaca "utamakan senyuman". Karena senyumanmu adalah menu terlezat sarapan pagiku.

Memandangmu kadang memaksa waktu berubah menjadi kosong, jarum jam terhenti berubah menjadi bengong. Mereka iri dengan keindahanmu, atau mungkin hanya ikut terbawa suasana hatiku. Bagiku engkau adalah gadis terindah dimataku setidaknya untuk beberapa waktu-waktu itu. Namun kini semua tak lagi berlaku. Banyak gadis ayu yang terekam di mataku. Tapi tenanglah, mungkin kini banyak gadis singgah dimataku tapi tidak dengan hatiku. Mataku mungkin bisa tertipu oleh sebuah ayu, tapi hatiku masih tertambat di kamu. Gadis berhidung mungil bersepeda pancal berwarna biru.

Kesalahan terbesarku adalah kau tak sempat tahu isi hatiku. Mungkin kau menyadari, tapi entahlah itu hanya digaanku saja. Atau mungkin kau juga punya rasa yang sama, tanpa ada daya yang bisa menyatukan aku dan kamu menjadi kita, entahlah biarkan saja mengalir begini adanya.

Sepasang Kaki ini sudah lama tegak berdiri, namun tak juga mampu untuk berlari.

Teruntuk Monie,

Masa Depan

http://otnairahiwa.blogspot.com


Pernahkah kamu berfikir akan menjadi apa kita di masa depan?
Masa depan Sesuai angan?
Atau masa depan yang meleset dari harapan?
Entahlah,,,

Saat ini kita bersatu,
Memperbincangkan sesuatu.
bersuka duka karena sesuatu,
dan akan terpisah pula oleh sesuatu.

Lalu kamu akan pergi.
tak kan ada yang sanggup menghindari.
Kau kemasi hatimu.
kau tata diantara kemeja dan parfum beraroma luka
Lantas bergegas tinggalkan lara.

Sudahlah,
tak usah kita bagai ahli nujum,
menerka-nerka masa depanku, masa depanmu, masa depan kita
Biarkan saja sebagaimana alurnya
Seperti air,  begitu adanya mengalir mengikuti lekuk semilir hulu hilir.



Mengenangmu adalah cara terbaik menuntaskan rindu


Ngomongin kenangan memang tak akan ada habisnya. Setiap dari kita pasti mempunyai kenangan. Entah senang, sedih, bahagia, maupun luka. Aku tak tau angin apa yang mengantarku menuliskan ini. Yang jelas ada sesosok dari masa lalu yang datang bertamu mengetuk pintu, Pintu akan sebuah kisah penuh haru biru. "Mas, aku rindu kamu"

Aku tak berani membalas pesan darinya hingga saat ini. Hanya melalui ini ku berani memberi hak jawabku atas pernyataan yang menurutku sedikit canggung dan kaku.

Mengenangmu adalah cara terbaikku menuntaskan rindu
Mungkin saat ini telingamu mulai gatal,
Gatal mendengar panggilan hatiku
Atau mungkin dadamu mulai sesak akan tangisku yang menjelma tangismu 

Aku tak akan menangis malam ini
Bukankah lelaki pantang untuk meneteskan air mata untuk sebuah patah hati?
Bukankah patah hati tidak pula berarti mati?
Aku tak akan menangis malam ini
Sungguh...

Ini bukan air mata milikku
kau harus mempercayainya
Bukankah kau faham betul dengan tangisku?
Tangisku tidak berwarna kelabu tidak pula berwarna biru
Sungguh...

Kau harus mempercayai ini
Ada kabar bahagia di ujung sana
Diantara awan dan senja yang begitu merona
Tapi bukan denganmu
Bukan pula tentangmu

Sudahlah,
Tak usah kau perdalam lukamu
Aku sudah cukup mengerti
Betapa beliau sangat berarti

Hapus air mata dipipimu itu
Aku tak mau melihatnya
Tak sudi pula menghapusnya
Izinkanlah dia menyeka pipimu
Juga meredakan tangismu

Kau harus berjanji satu hal,
jangan lupa tersenyum
Bukankah senyuman adalah simbol kebahagiaan?
Dan aku selalu meyakini,
Kau akan bahagia,
Takkan ada nestapa,
Tak pula duka lara

Ini bukan luka buatku
Mengenangmu adalah cara terbaikku menuntaskan rindu
Jika memang kau begitu rindu
Aku tak berhak melarangmu
Tustaskan saja


Purnama, izinkan aku melupakanmu


Kak, bolehkah aku menepikan segala tentangmu untuk sementara waktu? Bukan selamanya kok, hanya beberapa purnama, tak sampai sewindu. Aku janji, aku akan mengingatmu lagi sebelum kamu berkeluh-kesah pada temaramnya senja. 

Kak, izinkan aku berpura-pura ya? Wanita yang saat ini "bersedia" bersamaku, tampaknya cemburu. "cemberutku karna sayang kamu", ujarnya. Sulit memahami wanita masa kini kak. Atau itu hanya perasaanku saja ya kak? Seingatku, kamu tak serumit itu kak. Aku tak maksud membandingkan antara kamu dan wanitaku kak. Hanya, ingatan tentang kamu adalah kakak dan sekaligus wanita yang sempurna masih lekat di dalam benak. 

Kak, wanita yang saat ini bersamaku acapkali cemburu kepadamu. Meskipun nyatanya kalian berdua tak pernah sekalipun bertemu. Padahal seingatku, tak pernah aku menyebut namamu dengan lantang. Telah kusimpan pula segala kenangan tentang kamu dalam sunyi, kak. Itu kulakukan demi menjaga perasaan wanitaku. Namun entah kenapa ia masih seperti itu. 

Kak, purnama kali ini bukannya perayaan ulang tahun pernikahanmu kan? Aku turut bahagia, kak. Tapi bohong apabila aku tak rindu. Aku kangen kak. Aku kangen kamu. Kamu yang sudah dimiliki. 

Fadhel

Buat kamu yang terlahir di bulan september


Pernahkah kamu bermain tembak-tembakan dengan teman sepermainanmu? Atau mungkin bermain berburu-berburuan? Ada yang jadi pemburu, ada yang jadi hewan buruan. Entah mengapa tiba-tiba terbesit ingatan tentang permainan itu. Dulu aku sering memainkannya sepulang sekolah. Waktu itu bukan senapan mainan yang ku gunakan, hanya sebuah tongkat sepanjang tangan. Maklum saja, bapak tidak punya uang untuk membelikanku senapan mainan. Kalaupun ada, ya senapan bikinan bapak sendiri yang dimirip-miripkan dari kayu, dengan peluru karet gelang.

Walaupun ala kadarnya namun itu justru sangat menyenangkan. Kesana kemari bagai pemburu beneran. Dar der dor jadi lupa makan, kadang lupa buat mengerjakan tugas rumah. Kadang pula rela berbohong pada orang tua pamit belajar kelompok tapi endingnya bermain mainan ini juga. Mengingat semua kenangan masa lalu ingin rasanya kembali merasakan masa itu, dimana beban terberat adalah PR Matematika dan bahasa Inggris, sedangkan menggambar dan olahraga adalah pelajaran terfavorit bagi siapa saja.

Permainan ini juga mengajariku banyak hal, bahwa hidup tak selamanya mudah. Butuh perjuangan untuk meraihnya. Layaknya berburu, kita pasti selalu punya hal yang kita cita-citakan atau kita inginkan dalam bidang apapun, baik itu impian, pekerjaan, bahkan cinta sekalipun butuh perjuangan dan strategi yang tepat agar target buruan kita tercapai, yang membedakan hanya alat buruannya saja.

Aku selalu merasa saat ini kita sedang memainkan permainan itu, berburu dan diburu. Sangat menyenangkan sekali permainan yang selalu kita mainkan. Aku pemburu dan kamu adalah obyek (bukan hewan) buruan.

Tapi Sudahlah, usah perpanjang pembahasan tentang kita. Takut terbawa suasana.

Oh iya, September ini kamu berulang tahun. Beriring dengan menuanya usiamu satu hal yang ingin ku sampaikan, Maaf dan terima kasih karena sudah mengizinkan hatiku berkelana memburu hatimu. Terkadang memang harus ku sadari bahwa tidak selamanya berburu itu membuahkan hasil, kadang tembakan meleset, kadang pula persediaan peluru habis, atau bahkan target buruannya yang tidak mau dibidik. Akan kucoba lain waktu, siapa tahu keberuntungan sedang bertamu.

Mungkin saat ini kamu sedang bertanya-tanya ini ucapan untuk siapa, sudahlah jangan dihiraukan, ini hanya untuk kamu seorang, entah hari ini, esok atau hari lalu. Maaf, aku tidak akan meninggalkan jejak di berandamu. Bukan karena takut ketahuan, namun lebih karena ku ingin kamu menyadari bahwa ini adalah ucapan ulang tahun khusus kuperuntukkan buatmu.

Kadonya, doa suci, semoga kamu dalam lindungan-Nya dan semoga kau selalu merindukanku Hehehe. Kamu juga dapat pesan dari ayahmu yang menjumpai dalam mimpiku, "jaga baik-baik ibu dan adikmu!"

Sudah, Itu saja!

semoga

Hari ini kita bertemu, namun  belum dapat ku menyapamu. Raga kita memang bertatap, namun tidak dengan jiwa kita. Belum dapat ku menjumpai jiwamu, Entah, tertinggal atau memang sengaja kamu sembunyikan.

Apa kamu punya waktu luang? Temani aku melihat pertunjukan.

Baiklah, dimana? Ah maaf aku tak bisa.

Yaudah, tak apa. Mungkin lain kali kamu bisa.

Semoga...


payung teduh

Lensa, Cerita, dan Kenangan

lensa photografi
Dalam sebuah foto, tersimpan berjuta cerita. Cerita yang berujung kenangan. Entah pahit atau manis. Karna itu aku mencoba mengabadikan kenangan. Membingkai sebuah cerita dalam satu "jepretan", dituntut dan menuntut, merekam segala detail yang ada dalam satu bingkai yang utuh. Ekspresi, Lokasi, hingga Interaksi di dalam sebuah foto mesti dijelaskan. Meski terkadang kenangan milikku tak slalu berujung bahagia karena cerita milikku pun tak luput dari derita.

Meski aku hanya berkesempatan melihat dibalik lensa, namun aku berfikir bahwa mereka harus disadarkan. Sadar bahwa kamu sedang bercerita. Sadar bahwa kenangan yang terpatri takkan mudah pergi. Sadar bahwa kenanganmu adalah milikmu. Jika kenangan milikmu membuat orang dekatmu cemburu, katakanlah "aku mengenang ceritaku sendiri,  kamu pun berhak melakukan hal yang sama". Namun perlu engkau tahu setiap kenangan mempunyai hak untuk dikenang. Bukan tak bisa atau tak mau melupakan, aku berusaha mengambil pelajaran dari setiap jejak-jejak yang kutinggalkan di masa lalu. Entah senang, sedih, bahagia, nestapa aku nyaman dengan "skenario" dari Sang penguasa semesta.

Saat ini aku denganmu. Namun esok siapa yang tahu, Kekasih? Saat ini aku membuat kisah denganmu. Menggoreskan tinta demi lakon yang esok hari pasti menjadi sebuah kenangan. Karena kenangan dan ingatan itu menyatu. Meskipun samar, ingatan dan kenangan adalah penggerak tubuh untuk berbuat "sesuatu".

-Fadhel

Sisa-sisa Keriuhan Kemerdekaan

lomba 17 agustus

Apa yang kau rasakan ketika melihat apa yang  mereka lakukan? Senyum tawanya? Ataukah perjuangannya menyelesaikan perlombaan yang hadiahnya hanya beberapa buah buku saja? Ataukah kau justru merasa berdebar ketika tak sengaja fikiranmu membuka berlembar-lembar kenangan akan masa lalumu yang usang tebal berdebu? Entahlah, Aku tak ingin menerka-nerka apa jawabmu tentangnya. Karena menerka sama halnya menebak-nebak skor bola, akan muncul kecewa jika kau salah menerkanya. Namun jika kau bertanya padaku tentangnya, aku akan menjawabnya. Aku rindu kawan-kawan kecilku dulu.

Masih terbesit dalam ingatanku, Dulu saat kami masih sibuk dengan pistol-pistolan, main perawat-perawatan, main tentara tentaraan, kami pernah mempunyai angan akan kecil bersama, tumbuh besar bersama, dewasa bersama kemudian akan menua bersama. Layaknya cinta monyet, begitu pula angan-angan kami dulu. Tapi aku tak tau masih ingatkah mereka dengan semua itu.
lomba 17 agustus


Lihatlah mereka, mangga-mangga muda yang siap untuk matang. Menunggu dan sabar menerima polesan-polesan alam akan sebuah kerelaan dan tanggung jawab menjadi sebuah jembatan perantara muda-tua hingga nantinya siap dipetik oleh sang empunya. Melihat semangatnya membuatku iri, dulu kami tak sehebat mereka tak jua setangguh mereka. Bukan karena kami tak mampu, namun karena waktu yang tak mengijinkan kami seperti itu, karena waktu akan selamanya menuntunmu untuk selalu ke depan tanpa memandang kesiapan kita untuk bergegas melangkah di garis depan.
lomba 17 agustus

Aku membayangkan mereka akan menua bersama dan masih tetap utuh sedemikian adanya. Dan aku akan menjadi saksi setiap langkah perjalanan mereka. Ada yang jadi guru, adapula yang jadi seorang perawat, adapula yang jadi petani kaya raya, ada pula pengusaha, dan mereka akan tetap bersama, ahh semoga saja. Menjadi bagian dari mereka adalah sebuah perjalanan yang begitu menyenangkan. Kadang ada amarah kadang pula ada rindu. Bersama mereka ku belajar bagaimana menjadi orang yang dituakan (walau hanya karena usia) dan bagaimana menjadi seorang kawan yang baik bagi mereka. 
lomba 17 agustus

Kau mungkin mengira bahwa aku adalah orang yang mudah terbawa suasana, tidak salah. Ku tulis ini saat malam mulai gelap. Duduk di beranda rumah sambil menikmati kopi yang sengaja kuseduh tanpa gula. Bukan karena takut diabetes atau semacamnya namun lebih karena ku coba belajar membiasakan diri untuk berpait-pait ria. Karena tak selamanya manis itu nikmat, seperti halnya kopi ini. Dan kotak kenanganku kembali terbuka ketika tanpa sengaja jariku menyentuh album di layar handphoneku dan menemukan deretan foto kemerdekaan yang lalu.

Setidaknya terima kasih untuk beberapa tahun ini, karena kalian ku dapat merasakan bagaimana indahnya kebersamaan, walau terkadang menjengkelkan.


-baja04-

Takut

http://otnairahiwa.blogspot.com

Aku takut memandang wajahmu

kata orang, cinta pandangan pertama

dan aku orang yang mudah menitipkan rasa

meskipun tak selalu berbalas, aku menikmatinya

Aku takut melihat mata sayu milikmu

bukan sebuah kebetulan jika ada peribahasa “dari mata turun ke hati”

bukankah mata adalah pembunuh paling sempurna?

mata jua yang memaksa hati untuk menitipkan asa dan harapan pada insan yang lain

saat semua hanya ilusi semu, maka lara hanya hati yang menanggungnya

“sayatan yang sempurna dan rasa sakit yang paripurna” gumam hati dalam sesaknya nestapa

Aku takut kamu tersenyum padaku

karna satu senyum berbilang makna, beratus kata yang dirangkum,

beribu makna terselubung,  bahkan sejuta dendam tersembunyi di gelapnya sanubari

Aku takut kenal kamu

dengan mengenalmu akan membuatku bertindak jauh

terkesan kebablasan, bahkan sedikit urakan

pin BB, nomor hape, hingga ukuran sepatu

Aku takut untuk “biasa” denganmu
cinta selalu dimulai dari cita yang biasa,

angan yang biasa hadir dalam mimpi,

hingga pertemuan biasa yang tak sengaja

bukan pertemuan yang aku sesalkan,

namun rasa tak biasa di saat tatap muka

rasa tak biasa dan melanglang buana menembus mega dan menelusup ke dalamnya pembuluh vena dan aorta

itu menyiksa, Kekasih 

Aku takut kamu kagum dengan kebaikanku, kemurahan hatiku

karena suatu hari nanti, kamu akan marah dengan sikapku yang tak bisa berkata tidak kepada semuanya

Aku takut kita pacaran

nanti kan berujung pertanyaan kapan lamaran

bukannya aku tak ingin memberi kepastian, Kekasih

pengetahuanku berbatas bahwa kepastian adalah Tuhan

dalam Tuhan kepastian hadir, dalam kepastian Tuhan ada

jelas bukan, Kekasih? aku mampu bersamamu hari ini

namun entah esok, lusa dan seterusnya

aku fana, tak berdaya dan tua

Aku takut kita berteman

teman selalu berujung dekat

dekat berakibat melekat

hingga tiada sekat

lalu akan tiba masanya kita saling menghindar

demi menjaga sebuah ikatan yang dinamai “sahabat”

Aku takut menikahimu

titah guruku, menikah itu nasib, mencintai itu takdir, kau bisa rencanakan menikah dengan siapa, namun tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa

aku berencana menikahimu, namun jika saat cinta hadir dan ternyata bukan untukkmu, bajingan kah diriku,  Kekasih?

lalu kamu menggila, berteriak “bukankah kamu berjanji di hadapan orang tuaku? dihadapan Tuhan? bahwa kita akan bersama?”

“kamu menikahiku karna kamu cinta padaku, to? aku milikmu, kamu milikku?”

ini membuatku khawatir, Kekasih

kita akan saling “mendasarkan” segala hal pada “cinta”

aku cinta padamu, maka aku menikah denganmu

jika aku lupa tanggal ulang tahunmu, maka aku tak cinta (lagi) padamu

uang yang kubawa tak cukup untuk beli gincu, aku tak cinta padamu

si sulung menangis minta layangan online, aku tak cinta padamu

bertemu kawan lawas, sedikit lebih lama untuk melepas rindu, itu juga artinya tak cinta padamu

Aku takut untuk hidup bersamamu, satu atap, satu tempat yang sama

kamu akan mulai rewel tentang cucian kotor, hujan yang tak berhenti dan parfum baru yang kubeli

Aku takut menua bersamamu

akan tiba saat kita sama-sama cerewet soal waktu

waktu yang cepat berlalu

tentang waktu yang tak memberi kesempatan

kita jadi insan yang tak berterimakasih
bukankah waktu jua yang buat kita beremu, sayang?

Namun...

Aku takkan pernah takut untuk bercerita

mendaras puisi, melenggokkan kanvas, hingga memuntahkan monolog

yang tentu saja tentang kamu, Kekasih

Cerita tentang kamu yang tak pernah membuatku takut

perkara kamu milikku atau tidak

bersamaku atau bersama insan lain
tak jadi soal

Sudah kubilang, cerita tentangmu tak pernah menakutiku.

*Sajak sederhana milik kawan lama, barang kali berkenan berjumpa melalui akun pribadinya, Fahmi Muhammad Fadhel

Nyawaku Ada Padamu

Aku ingin bercerita, sebentar saja.

Pagi ini telepon berdering nyaring dan aku pun terbangun aring. Berharap itu dari kamu, tapi bukan. Seorang lelaki yang menelepon meminta agar ku mau menjadi hakim,  sebuah perkara berat, katanya. Aneh, begitu kata yang terlintas dibenakku. Aku seorang hakim? Dan yang lebih aneh lagi, aku menyanggupinya.

Ada orang mengetuk pintu, aku kira itu kamu, tapi bukan. Seorang kurir mengantar paket. Aku masih berharap itu paket dari kamu, tapi bukan juga. Tertera nama pengirim Soekotjo Tjokrowardono. Penasaran, aku sama sekali tak mengenal sederet nama itu. "NYAWAKU ADA PADAMU" begitu kalimat pertama yang tertulis pada kertas yang ada di dalam.
http://otnairahiwa.blogspot.com
Instagram


NYAWAKU ADA PADAMU Mas,

Salam hormat, mungkin saya lancang telah berani mengirim surat ini pada mas. Tapi saya tak ada pilihan lain. Hanya mas yang bisa menolong saya. Beneran mas,hanya mas yang bisa menyelamatkan nyawa saya dan keluarga. Kasihanilah kami mas, kasihanilah anak kami, yang besok baru saja akan berulang bulan ke-10. Suami saya sudah pergi entah kemana. Masak mas ndak kasihan sama janda muda seperti saya? Jadi, saya harap mas mau membantu saya menyelesaikan masalah saya.

Sebelumnya saya mohon maaf karena tidak berani menjumpai mas secara langsung, hanya melalui telepon, itu saja bukan saya yang bicara, tapi paman saya. Hanya lewat surat ini saya berani bicara dengan mas. Saya orangnya pemalu mas ndak biasa berhadapan dengan orang seperti mas. Lagian ndak enak kalo dilihat tetangga, janda kayak saya bertemu dengan mas, maklum saja, wong cilik. Sangat berbeda dengan mas yang sudah terbiasa dengan orang-orang besar. Dari pejabat erte sampai provinsi.

pliss mas, bantu saya. Pokoknya saya ndak mau tau, aku padamu mas. Beneran hanya kamu yang bisa bantu saya mas. Pokoknya kamu mas beneran kamu.

Saya akan sangat berterima kasih jika mas membantu saya. Apapun yang mas minta akan saya turutin asalkan masalah saya ini selesai. Masalah perlengkapan dan biaya tenang saja mas, walaupun sedikit tetap ada, jadi ndak usah bingung. Pokoknya saya minta tolong sama mas.

Oh ya mas, maaf kalau paketan ini bukan tertulis nama saya. Itu nama paman saya yang tinggal di luar kota. Saya takut mas ndak mau nerima kalau paketan ini tertera nama saya, seperti yang sudah-sudah.

Nyawaku ada padamu mas. Pokoknya semua kuserahkan padamu. Sebagai penunjang kinerja mas agar maksimal sengaja kubelikan senjata baru mas. Jangan dilihat mahal murahnya, tapi lihatlah niat tulusku memberikan itu mas.

Pokonya nyawaku ada padamu mas. Kamu harus datang sebelum pukul tujuh pagi mas. Kalau tidak berarti kau membunuhku, juga membunuh anakku. Apa kamu tega mas sama aku?

Sekian mas, pokoknya aku tunggu hari sabtu sebelum pukul tujuh.

Salam manis dari saya, sekretaris lomba tarik tambang.
Oh ya mas, sempritan baru pemberianku jangan lupa dipakek ya!

"mas anakku menunggumu,"
-jupe, janda anak satu-




Hujan dan Ketidakpastian

http://otnairahiwa.blogspot.com
Semoga kamu memikirkanku malam ini. 
Ku tulis saat hujan tengah deras-derasnya turun, basahi hati yang tak jua isi.

Ku berharap kau tak membaca ini, meski itu adalah hal yang mustahil. Aku tau kau diam-diam sering singgah ke sini meski hanya sekedar mengintip dari celah jendela. bahkan sering singgah di beranda depan saja. Iya, hanya diberanda depan saja, tak lebih. Sepertinya ada suatu hal yang membuat kau enggan masuk ke dalam, dan hingga kini tak jua kutemukan sebabnya. 

Malam ini terlalu berisik. Kepalaku penuh dengan suara hujan dan suaramu. Sepertinya rindu sedang bertamu. Aku memang pelupa, namun jika tentangmu aku pengingat sempurna. Jangankan suaramu, senyum kecilmupun dengan sangat mudah ku kenali walau harus terpejam sekalipun. Bagaimana aku bisa lupa dengan senyum dan suara yang membuatku lupa segala. Lupa akan kesendirianku, lupa akan kekuranganku, lupa jika aku sedang jatuh cinta padamu.

Terkadang aku sering melamunkan kita yang tak kunjung bersama. Aku yang selalu menunggu kepastian dengan penuh harap dan kecemasan. Berbicara kepastian kadang pula terlintas dalam benak, mengapa aku sampai di sini dan sampai kapan? Stagna ditempat tak jua ada perubahan. Menunggu dan selalu  saja hanya menunggu.

Ya, kepastian adalah sesuatu yang dinanti oleh banyak orang bodoh yang mau menunggu. Sedangkan ketidakpastian juga berarti sebuah kepastian jua, kepastian bahwa kita harus mulai pergi dan melupakan sebuah harapan yang begitu menawan. Lantas bagaimana dengan ku? Aku diantara keduanya, menanti kepastian darimu yang tak jua kunjung datang.

Mungkin sesegera mengahiri harapan adalah jalan terbaik sebelum harapan-harapan ini lebih mengakar dalam perasaan bersalah. Bersalah karena harus mempercayai harapan yang selama ini ku anggap sebuah kebenaran, dan bersalah karena harus menipu diri sendiri. Ada banyak hal yang seolah dapat kugenggam ternyata fatamorgana, dari jauh jelas terlihat, semakin dekat semakin sirna. Seperti halnya kamu, Dari jauh terlihat semakin dekat menghilang.

Percayalah, luka sebuah penolakan lebih kering dari luka ketidakpastian. Dan aku akan tersenyum lega jika kau mau memastikannya, walau itu sebuah penolakan. Kau tak pernah tau isi hati seseorang yang mencintaimu, sebelum kau benar-benar ada di dalamnya.

Semoga kau terlelap berselimut hujan dan tak sempat membacanya...

Makna Kehidupan Dari Lima Jari Tangan

Tuhan menciptakan sesuatu pasti mempunyai maksud dan makna tertentu. Begitu halnya kelima jari tangan kita. Namun kita terkadang sebagai manusia belum paham akan keistimewaan-keistimewaan ciptaanNya itu. Kali ini saya sengaja membahas tentang makna kehidupan dari lima jari tangan yang saya dapatkan dari seorang guru. Saya sebut guru bukan karena beliau mengajar di dalam kelas, namun lebih karena dia dapat mengajarkan suatu ilmu walaupun hanya punya seorang murid, yaitu saya. Hehehehe...

Sore begitu hangat saat kami mulai berbincang tentang kehidupan. Awalnya sih topik pembicaraan kemana-mana. Mulai dari ngomongin ayam, bola, sampai ngomongin kamu, eh jangan ge er lo ya! Tenang aja ngomonginnya yang baik-baik kok, kan saya orangnya baik!hehehhehehe. Entah angin apa yang membuat pembicaraan akhirnya menuju pada topik yang menurut saya sangat menarik, ngomongin hidup.

Semua yang hidup pasti akan mengalami sebuah perhentian yang banyak orang sebut dengan mati. Memang seperti itulah tuhan menggariskan. Pada hakikatnya hidup kita sebagai manusia melalui tiga fase. Itu kata ustadz SD saya waktu saya dulu masih sering ngaji, hehehehehehe...

Pertama, kita hidup di alam ruh. Wah jadi horor gini ya, hehehe ndak masalah namanya juga belajar. Di alam ini kata guru ngaji saya adalah tempat kita mengadakan perjanjian dengan Allah SWT. Yang kata ustadz saya juga, intinya bahwa kita di alam ini telah berjanji akan bersujud kepadaNya. Adapun isi dari perjanjiannya dan siapa saja saksinya dan naskah perjanjiannya itu seperti apa dapat dipastikan bahwa kita sebagai manusia tidak akan ingat, karena fitrah kita sebagai manusia adalah pelupa. Dan kemudian kita semua baru terlahir ke bumi, begitupun aku dan kamu. Iya, kamuu!

Kedua, kita berada pada alam dunia. Ya di alam inilah topik pembahasan kita tentang kehidupan akan kita pelajari bersama. Sedangkan yang ketiga adalah alam arwah dimana kita akan bertempat di surga atau neraka. Semoga kita semua khususnya yang sering membaca tulisan saya maksuk surga, amiinn!hehehehe.

Langsung saja kita fokus pada topik kita tentang Makna kehidupan dari lima jari tangan yang muncul dari obrolan ringan saya dengan seorang yang saya sebut guru. Kamu jangan cemburu lo ya, bukan cewek kok!hehehehe...

http://otnairahiwa.blogspot.com
Kamu mau gak jarinya diginiin? Iya kamu :)

Untuk mencapai sebuah kehidupan yang benar-benar hidup ada lima tahapan sesuai dengan jumlah jari kita. Yaiyalah kan judulnya makna kehidupan dari lima jari tangan!hehehe...

Tahap satu, makna kehidupan dari jari kelingking

Ini adalah tahapan pertama, mungkin salah satu alasannya karena dia kecil. Jari kelingking adalah simbol awal kita hidup. Ndak mungkinkan kita lahir langsung segedhe pohon, ya kan? Di tahap ini kita masih banyak belajar. Masih banyak kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Guru saya menganalogikan tahap ini kita masih anak kecil yang nakal-nakalnya. Namanya juga anak kecil, salah adalah hal yang lumrah.

Tahap dua, makna kehidupan dari jari manis

Saya tidak tau asal muasalnya jari ini disebut jari manis, mungkin karena sering dijadikan tempat cincin atau malah karena rasanya manis kayak gula, ahahaha seperti kamu, manis sekali kalau lagi senyum! Di tahap ini kita sudah mulai ngerti dan mulai menjadi baik. Beliau menganalogikan bahwa tahap ini seperti anak yang sudah mulai nurut dengan orang tuanya. Atau istilah inggrisnya wis keno ditoto, sudah bisa ditata sehingga tampak manis. Seperti saya!hehehehehe

Tahap ketiga, makna kehidupan dari jari tengah

Jari tengah adalah jari yang jarang digunakan, iya kan? Kalau menurut pengamatan saya begitu, tapi entah kalu anda, hehehehe. Jari ini adalah simbol ketenangan atau bijaksana. Dalam tahap ini kita sudah mulai berwibawa dan bijaksana dalam menyikapi semua hal. Begitupun masalah percintaan. Ciiieeee... suit suittt...

Tahap empat, makna kehidupan dari jari telunjuk

Jari telunjuk biasa digunakan untuk menunjuk sesuatu. Oleh sebab itu dinamakan telunjuk. Eh tapi jari ini juga biasa buat ngupil, heheheheh ah jorok! Makna dari jari ini dapat diartikan kita benar-benar sudah matang. Kita sudah mempunyai banyak pengalaman, dari mulai kita belajar, kemudian mengerti, kemudian kita mampu bijaksana, dan tahap ini  adalah menunjukkan atau mampu memberikan petunjuk bagi orang lain. Beliau menganalogikan tahap ini ibarat kita sedang berpergian, penunjuk arah adalah orang yang mengerti apapun tentang arah yang akan dituju. Jadi tahap ini kita sudah dapat menunjukkan arah mana jalan kebenaran dan mana jalan yang salah. Kita sebagai penuntun orang lain.

Tahap kelima, makna kehidupan dari ibu jari

Ibu jari adalah simbol kesempurnaan. Atau bisa dikatakan hebat. Di tahap ini kita sudah melalui semua tahapan dan bisa dikatakan hidup kita sempurna. Kayak sebuah lagu ya, hehehehe SEMPURNA!


Ya begitulah pembahasan sederhana terkait dengan makna kehidupan dari kelima jari tangan. Mungkin terlalu panjang ya, atau justru terlalu singkat? Mohon dinaklumi namanya juga belajar. Kalau di simbolkan seperti tahapan di atas mungkin saat ini saya di disimbolkan dengan jari kelingking, masih nakal dan perlu banyak belajar!hehehehehehe bagaimana dengan anda????

"mas tulisanmu terlalu berat, sama beratnya dengan bobot (ukuran berat tubuh) mu!!!!!"
- Ricky Ricardo, anak kelas 5 SD

Sederhana

Sumber : twitter

Aku ingin sedikit bercerita

Mungkin kini kau sedang bertanya-tanya apa yang ingin aku ceritakan padamu. atau mungkin kau sedang gusar karena harus membaca tulisanku yang nanar. Tapi kumohon kali ini, simpan dulu semua gusarmu, simpan pula amarahmu. Sungguh aku ingin bercerita padamu, beberapa menit saja ku mohon luangkanlah waktumu buatku.

Angin berhembus, ombak tak henti henti menggulung Mendekat kemudian kembali menjauh. Di sini ku coba lepaskan penatku dari lelah memikirkan hidup, juga lelah memikirkanmu. Terasa sangat nyaman disini. Bercengkrama dengan senja yang mulai meraja, Memerah dan kemudian menggelap. Apa yang kau rasakan saat melihatnya? Remangnya kah? Atau hangatnya? Atau sebuah ingatan akan seseorang di masa lalumu? Senja memang selalu menjadi jembatan antara masa lalu, kini maupun masa depan bagi siapa yang mau menjumpainya. Selalu ada cerita bersamanya, seperti saat ini.

Aku begitu menyukai senja dengan sederhana, sesederhana mencintaimu. Iya kamu! Berapapun ku berpeluh payah mengejarmu selalu hanya ada jawaban sederhana, maaf. Dan kau tak jemu mengatakan hal itu. Begitu sederhana, seperti senja yang merona.

Sengaja kunanti senja yang kemunculannya selalu berbeda dan dapat berubah layaknya cuaca. Kadang muram, kadang terang, kadang pula malu-malu. Seperti halnya kita, hatiku juga hatimu. Aku masih yakin ada ruang hatiku menjumpai hatimu. Ku harap kau kan merubah perasaanmu, Seperti senja itu, masih bisa berubah-ubah, dan aku berharap itu terjadi pada hatimu.

Tak banyak yang ingin ku ceritakan padamu. Hanya kotoran-kotoran sampah kepala yang membusuk memaksa jari menuliskannya. Aku punya harapan kecil bersama senja yang sederhana. Menikmatinya bersama orang yang begitu sederhana, dan juga berbahasa sederhana, bahasa hatiku dan hatimu, itu saja.

Senja dan kamu; adalah dua hal sederhana yang selalu aku buru...











Buat Putri Tercinta

http://otnairahiwa.blogspot.com

Halo nduk, putriku tersayang. Maaf ibuk lama ndak ngirim kabar. Akhir-akhir ini alhamdulillah nduk keripik tempe ibuk rame jadi ndak sempet kasih kamu kabar. Bahkan sekarang ibuk sudah bisa ekspor ke Desa sebelah nduk.  Rencananya ibuk mau bukak toko onlen nduk, kata si bejo sekarang banyak yang jualan disitu. Doain ya nduk toko onlen ibuk rame.

Oh ya nduk, kamu udah punya calon apa belum? Eling lo ya usiamu sekarang berapa, jangan terlalu lama, buruan kalo udah cocok langsung dibawa pulang saja dikenalin sama bapak ibuk. Si Suti sahabatmu aja sudah gendong anak perempuan lho, masak kamu masih tenang-tenang saja.

Nduk kalo milih cowok jangan sembarangan lo ya, kalo bisa dilihat bibit, bebet, sama bobotnya. Jangan sampe nyesel di belakang. Kalo nyari calon cari yang rajin cari duit. Ora koyo bapakmu, setiap hari kerjane cuma ngurusin ayam sama burung saja. Tapi kalo masalah setia bapakmu jagonya. Kalo bisa nyari yang setia kaya bapakmu tapi yang rajin cari duit.

Pesen ibuk, yang baik dalam bergaul. Apa adanya saja nduk, ndak usah di ada adakan. Eling kamu itu anak siapa. Tapi kalo prestasi kamu harus juara. Buktikan nduk anak desa mampu jadi juara. Eling ya nduk, kamu adalah harapan keluarga. Buktikan kamu bisa juara, kalo ndak bisa mending kamu pulang saja nikah sama Maman sahabat kecilmu dulu. 

Satu lagi nduk, belajarnya yang serius. Jangan terpengaruh sama pergaulan anak anak jaman sekarang. Ibuk sedih nduk kalo lihat Suti lewat depan rumah. Dia anak pinter tapi salah pergaulan. Kejar cita-citamu nduk, sebagai perempuan sudah saatnya tampil di depan. Bukan jaman lagi perempuan cuma di dapur. Kamu harus jadi contoh buat warga kampung kalo perempuan juga bisa sukses. Biar mereka sadar buat sekolahin anak perempuannya.

Yaudah nduk sampai disini dulu ya, besok disambung lagi. Ini si Bejo sama Orang koprasi datang minta gambar sama ibuk katanya mau buat poto propil toko onlen, ingat baik-baik pesan ibuk. Kamu baik-baik disana ya nduk, jangan nakal, jangan lupa sholat, ngajinya juga jangan bolong, banyakin doa nduk biar cita-citamu tercapai terus nikah. Ibuk ndak sabar pingin gendong cucu.

Sampai jumpa nduk,
Sampaikan salam ibuk buat temenmu dan calon menantuku. Selamat hari perempuan ya nduk!



Puspha Dhewi

Masih ingatkah kamu, kita pernah tuntaskan rindu di ruang tamu. Bercengkrama liar membabi buta, beekelakar nakal tuntaskan sapa. Bulan termenung mendayu sendu, Anginpun mengalun pelan antarkan aku padamu.

Masih ingatkah kamu, kita pernah tuntaskan rasa diteras belakang. Aku hirup oksigenmu, kamu hirup oksigenku. Kita bertautan rasa penuh cinta. Hujan terdiam menyaksikan kita, tak sanggup ia  bertutur kata. Hanya terdengar lirih menggericik menuju kolam penuh dengan air mata. Bukan air mata buaya, melainkan air mata haru akan segelas rindu yang begitu membiru.
Ilustrasi dari google

Sepertinya kamu sudah melupakan semuanya.

Semua ini kesalahanku, kebodohanku. Batang demi batang rokok dan sebotol minuman jadi saksi betapa engkau sangat berarti. Aku mengerti ini tidaklah mudah,  tapi setidaknya satu kali saja, izinkan hatiku menjumpai hatimu, kalau itu mustahil setidaknya izinkan mataku menatap matamu, itu saja.

Aku ingin bicara.

Sejak malam itu, saat kau titipkan surat terakhirmu, ada rindu bebal yang menebal. Ada kisah telenovela yang tak terselesaikan. Aku, kamu, dan rima. Selalu saja jadi sumber pertengkaran kita. Harusnya kau sadar siapa dia sebenarnya. Dia tak seperti yang kau sangkakan. Kau pergi tanpa sempat ku berdalih. Kau enyah tanpa sempat ku berucap, maaf.

Aku takut kehilanganmu.

Perpisahan selalu memberi kesan pahit buatku. Tak mau terulang kembali. Cukup sekali saja. Mas, pulanglah! Aku takut kehilanganmu. Aku sangat merindukanmu. Rindu peluk, cium dan aroma tubuhmu. Seperti halnya pertemuan, selalu ada perpisahan setiap endingnya. Dan aku tak mau itu terjadi. Tidakkah kau ingat kisah joni dan rani yang selalu kita tonton? Kau selalu bilang, aku rani dan kau joni, simbol kisah cinta suci nan abadi.

Mengenal Zika Lebih Dalam

Akhir-akhir ini saya tertanggu dengan nama Zika. Banyak sekali yang membicarakanya. Ibu-ibu yang antri beli sayur sampe bapak-bapak yang lagi roda pun juga membicarakannya. Hal itu yang membuat saya penasaran. Siapa sebenarnya Zika? Tinggal dimana dia? Gadis atau jandakah? Sampai terkenal seantero komplek perumahan.
Zika yang saya bayangkan,
Gambar dari innov8tiv.com

Semakin banyak orang membicarakannya semakin membuatku penasaran ingin mengenalnya, ingin berjumpa dengannya, ingin bertukar sapa. Pokoknya saya ingin bertemu dengannya. Rasa penasaran ini sudah tak terbendung lagi. Akhirnya saya memberanikan diri bertanya pada Pak Eko, pimpinan Ronda di tempat saya. Dan jawabannya sungguh sangat mengejutkan. Bukan gadis yang saya dapat, namun sebuah nama Virus atau penyakit.
Ini dia ternyata wujud zika yang asli
Diambil dari mentalfloss.com

Mendengar jawaban pak Eko membuat saya lemas. Saya membayangkan Zika adalah gadis ayu yang cantik dan bahenol. Hehehehehe... dengan body yang aduhai. Semua ekspektasi dan lamunan akan sosok zika lenyap sudah. Pak Eko tertawa terbahak-bahak melihat saya.

Nama sebuah Virus Zika sungguh membuatku tak tenang. Apa itu virus zika, Apa gejala virus zika, dan apa dampak bagi kita? Sungguh saya ingin mengetahuinya. Sebuah nama yang membuatku malu barusan. Akhirnya mbah google selalu menjadi sandaran saya untuk bertanya, apapun termasuk si zika ini!

Apa itu Virus zika?
Virus zika adalah virus yang proses penularannya melalui media nyamukAedes aegypti. Masih satufamilydengan virus lain seperti virus penyebab penyakit demam berdarah, penyakit kuning, dan penyakit chikungunya.


Bagaimana gejala penderita virus zika?
bahaya terbesar dari serangan Virus ini justru muncul pada ibu hamil, karena ibu hamil yang positif memiliki virus tersebut kemungkinan bisa menularkan virus tersebut pada janin dalam kandungannya. Zika akan menyerang jaringan otot dan sistem saraf termasuk sistem saraf pusat di otak dari janin. Wah ngeri juga ya! Dan yang lebih parahnya lagi, ada yang mengatakan bahwa virus ini dapat menyebabkan janin yang ada dikandungan jika kelak lahir akan memiliki otak yang kecil.


Lantas apa saja gejala virus zika ini? Dari sumber sumber yang ada biasanya gejala hampir mirip dengan penderita penyakit demam berdarah, seperti demam, pusing, muncul ruam merah pada kulit, sakit pada persendian dan mata merah. Wah bahaya juga ya jika dokter sampai salah diagnosa dan perawatan, ngeri juga!hmmmm...

"Mas di rumah sebelah ada tante-tante baru!"
-Pak Maman, aspri ketua ronda-

iklan

" Belum dapat kukenali mana kopiku dan mana senyummu yang tawar tanpa gula bagai obat pengantar luka "