Ditikung alih-alih membuat buntung, malah untung
Sajak Fahmi Muhammad Fadhel; Sepertiga Malam
Aku bercerita saat (mestinya) hujan tiba
Kala para munafiq senja dan pengingkar kopi bertebaran bagai ngengat di awal purnama
Semakin membuat mual ketika datang sebuah hikayat tentang romantis akan laris
Insan patah hati akan dicari
Ditinggal menikah tiadalah susah malah membawa berkah dengan datangnya pundi rupiah
Ditikung alih-alih membuat buntung, malah untung
Ditikung alih-alih membuat buntung, malah untung
Dan mendua bukanlah aib, apalagi dosa
Jamak kini terjadi
Bahwa hati yang tersakiti masuk tivi
Tangis yang semestinya sembab, malah membuat si empunya tangis jadi model jilbab
Isak yang tertahan jadi gurauan
Yang tentu saja, ditukar uang
Atau sekedar royalti serial yang berkelanjutan
Saat segala tentang cinta, asmara, dan lika-liku tentangnya bertebaran di pelupuk mata
Kenapa tak coba menepi di pojok samudera?
Berharap gemuruhnya akan membawa luruh
"bawa aku mati saja" ujarku padanya
Aku tak berkeinginan menggugat senja yang terlanjur dimiliki
Aku tak protes jika kopi ternyata bukanlah cara yang bijak untuk mengingat senyum manismu kembali
Apalagi mendendam berlebihan kala hujan tak lagi menenangkan
Harapku ialah merindumu dengan cara yang asing
Dengan bisik lirih dan isak yang tertahan
Tak perlu berteriak ke penjuru benua, namun cukuplah Sang Maha yang menilainya
Egois? Mungkin.
Tak tahu diri? Pasti.
Nekat? Iya.
Gila? Terserah apapun ucapmu.
Aku hanya makhluq yang terpagut rindu
Ikhtiarku semoga tak membuatmu risau
Namun ketahuilah, namamu selalu bercampur dalam lafadz
Yang kuderas di setiap sepertiga malam aku terjaga