![]() |
BAYANGAN
Pernahkah dari kita berfikir
bagaimana perjalan hidup kita selama ini? Bermula saat dalam kandungan kemudian
terlahir ke duania dalam bentuk kita yang kecil, mungil dan menggemaskan. Kemudian
berancak menjadi balita aktif berlari kesana kemari tanpa ada sedikitpun rasa
ketakutan akan sesuatu, tanpa takut merasakan kesakitan, tanpa takut merasakan
luka. Hingga larangan pertama muncul masuk ke telinga kita. Awas, nanti kamu
jatuh. Awas nanti kamu terluka, awas sakit. Tanpa kita sadari batasan demi
batasan itulah yang selalu mengingatkan kita akan sesuatu hal yang ingin kita
lakukan. Bahkan itu kadang menjadi sebuah pengikat bagi kita untuk melangkah. Padahal
sebenarnya yang kita akan pijak itu tidak semenakutkan yang kita bayangkan. Atau
bahkan tidak ada halangannya sama sekali.
Beberapa dari kita mampu untuk
keluar dari bayang bayang menakutkan di depan kita yang sebenarnya hanya ada
dibenak kita saja. Dan sebagian dari kita yang tidak mampu melaluinya, hanya
cemas dan was was. Untuk melangkah kita perlu dituntun sebuah tongkat dari uluran
orang lain diluar dari diri kita.
Sebenarnya hidup ini
menyenangkan. Ketika batasan batasan itu tidak kita terima saat kita beranjak. Coba bayangkan
jika batasan itu tidak ada. Pasti kita tidak disini sekarang, tidak dalam
kondisi seperti saat ini. Kita pasti sudah jauh melangkah, bahkan melesat
sangat jauh melaju. Meskipun kita harus menyadari. Bayangan akan selalu
disekitar kita. Bayangan tidak akan benar-benar jauh meninggalkan kita. Itu artinya
rintangan pasti selalu ada. Tapi bukankah kita dapat menghindari bayangan
dengan terus berjalan menuju cahaya? Bayangan itu akan selalu di belakang kita
selama kita terus saja berlari menuju cahaya.
Cahaya memang tak selamanya di
depan kita. Adakalanya ia berlari. Mentari saja bergerak, bulanpun merangkak. Apakah
ia selalu ditempat yang sama? Tentu tidak bukan, Adakalanya ia bergerak
menyamping untuk menyinari kegelapan disisi yang lain. Itu artinya ketika
cahaya itu berada disamping kita, bayangan pun ikut berjalan dan menempatkan
posisinya disamping kita. Dan apa yang harus kita perbuat dengan bayangan yg
ada disamping kita? Benar, menghadap cahaya adalah jalan terbaik untuk
meninggalkan bayangan yang sedang berusaha mendahului dan berhenti di depan kita. Berbalik dan kemudian terus
saja berlari menuju cahaya dan ikuti
kemanapun cahaya itu menuntun menuju cahaya yang benar-benar disebut cahaya. Tugas kita hanya terus berlari berlari dan
berlari mengikuti cahaya kemanapun ia pergi.
Dan satu hal lagi, Jangan menoleh
ke belakang jika kita tidak ingin berjumpa kembali dengan bayangan, berbaliklah dan terus
saja berlari menuju cahaya agar bayangan benar-benar tertinggal. Dan jika cahaya
itu tiba-tiba berbalik arah, ikuti saja.
Sajak Fahmi Muhammad Fadhel; Sepertiga Malam
Aku bercerita saat (mestinya) hujan tiba
Kala para munafiq senja dan pengingkar kopi bertebaran bagai ngengat di awal purnama
Semakin membuat mual ketika datang sebuah hikayat tentang romantis akan laris
Insan patah hati akan dicari
Ditinggal menikah tiadalah susah malah membawa berkah dengan datangnya pundi rupiah
Ditikung alih-alih membuat buntung, malah untung
Ditikung alih-alih membuat buntung, malah untung
Dan mendua bukanlah aib, apalagi dosa
Jamak kini terjadi
Bahwa hati yang tersakiti masuk tivi
Tangis yang semestinya sembab, malah membuat si empunya tangis jadi model jilbab
Isak yang tertahan jadi gurauan
Yang tentu saja, ditukar uang
Atau sekedar royalti serial yang berkelanjutan
Saat segala tentang cinta, asmara, dan lika-liku tentangnya bertebaran di pelupuk mata
Kenapa tak coba menepi di pojok samudera?
Berharap gemuruhnya akan membawa luruh
"bawa aku mati saja" ujarku padanya
Aku tak berkeinginan menggugat senja yang terlanjur dimiliki
Aku tak protes jika kopi ternyata bukanlah cara yang bijak untuk mengingat senyum manismu kembali
Apalagi mendendam berlebihan kala hujan tak lagi menenangkan
Harapku ialah merindumu dengan cara yang asing
Dengan bisik lirih dan isak yang tertahan
Tak perlu berteriak ke penjuru benua, namun cukuplah Sang Maha yang menilainya
Egois? Mungkin.
Tak tahu diri? Pasti.
Nekat? Iya.
Gila? Terserah apapun ucapmu.
Aku hanya makhluq yang terpagut rindu
Ikhtiarku semoga tak membuatmu risau
Namun ketahuilah, namamu selalu bercampur dalam lafadz
Yang kuderas di setiap sepertiga malam aku terjaga
Subscribe to:
Posts (Atom)